Sabtu, 09 Januari 2016

MAKNA DARI SEMAR BADRANAYA

Kyai Lurah Semar Badranaya adalah nama tokoh panakawan paling utama dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Tokoh ini dikisahkan sebagai pengasuh sekaligus penasihat para kesatria dalam pementasan kisah-kisah Mahabharata dan Ramayana. Tentu saja nama Semar tidak ditemukan dalam naskah asli kedua wiracarita tersebut yang berbahasa Sansekerta, karena tokoh ini merupakan asli ciptaan pujangga Jawa.

Sejarah Semar
Menurut sejarawan Prof. Dr. Slamet Muljana, tokoh Semar pertama kali ditemukan dalam karya sastra zaman Kerajaan Majapahit berjudul Sudamala. Selain dalam bentuk kakawin, kisah Sudamala juga dipahat sebagai relief dalam Candi Sukuh yang berangka tahun 1439.

Semar dikisahkan sebagai abdi atau hamba tokoh utama cerita tersebut, yaitu Sahadewa dari keluarga Pandawa. Tentu saja peran Semar tidak hanya sebagai pengikut saja, melainkan juga sebagai pelontar humor untuk mencairkan suasana yang tegang.

Pada zaman berikutnya, ketika kerajaan-kerajaan Islam berkembang di Pulau Jawa, pewayangan pun dipergunakan sebagai salah satu media dakwah. Kisah-kisah yang dipentaskan masih seputar Mahabharata yang saat itu sudah melekat kuat dalam memori masyarakat Jawa. Salah satu ulama yang terkenal sebagai ahli budaya, misalnya Sunan Kalijaga. Dalam pementasan wayang, tokoh Semar masih tetap dipertahankan keberadaannya, bahkan peran aktifnya lebih banyak daripada dalam kisah Sudamala.

Dalam perkembangan selanjutnya, derajat Semar semakin meningkat lagi. Para pujangga Jawa dalam karya-karya sastra mereka mengisahkan Semar bukan sekadar rakyat jelata biasa, melaikan penjelmaan Batara Ismaya, kakak dari Batara Guru, raja para dewa.

Asal Usul Semar
Terdapat beberapa versi tentang kelahiran atau asal-usul Semar. Namun semuanya menyebut tokoh ini sebagai penjelmaan dewa.

Dalam naskah Serat Kanda dikisahkan, penguasa kahyangan bernama Sanghyang Nurrasa memiliki dua orang putra bernama Sanghyang Tunggal dan Sanghyang Wenang. Karena Sanghyang Tunggal berwajah jelek, maka takhta kahyangan pun diwariskan kepada Sanghyang Wenang. Dari Sanghyang Wenangkemudian diwariskan kepada putranya yeng bernama Batara Guru. Sanghyang Tunggal kemudian menjadi pengasuh para kesatria keturunan Batara Guru, dengan nama Semar.

Dalam naskah Paramayoga dikisahkan, Sanghyang Tunggal adalah anak dariSanghyang Wenang. Sanghyang Tunggal kemudian menikah dengan Dewi Rakti, seorang putri raja jin kepiting bernama Sanghyang Yuyut. Dari perkawinan itu lahir sebutir mustika berwujud telur yang kemudian berubah menjadi dua orang pria. Keduanya masing-masing diberi nama Ismaya untuk yang berkulit hitam, danManikmaya untuk yang berkulit putih. Ismaya merasa rendah diri sehingga membuat Sanghyang Tunggal kurang berkenan. Takhta kahyangan pun diwariskan kepada Manikmaya, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Ismayahanya diberi kedudukan sebagai penguasa alam Sunyaruri, atau tempat tinggal golongan makhluk halus. Putra sulung Ismaya yang bernama Batara Wungkuhammemiliki anak berbadan bulat bernama Janggan Smarasanta, atau disingkat Semar. Ia menjadi pengasuh keturunan Batara Guru yang bernama ResiManumanasa dan berlanjut sampai ke anak-cucunya. Dalam keadaan istimewa,Ismaya dapat merasuki Semar sehingga Semar pun menjadi sosok yang sangat ditakuti, bahkan oleh para dewa sekalipun. Jadi menurut versi ini, Semar adalah cucu dari Ismaya.

Dalam naskah Purwakanda dikisahkan, Sanghyang Tunggal memiliki empat orang putra bernama Batara Puguh, Batara Punggung, Batara Manan, dan Batara Samba. Suatu hari terdengar kabar bahwa takhta kahyangan akan diwariskan kepada Samba. Hal ini membuat ketiga kakaknya merasa iri. Samba pun diculik dan disiksa hendak dibunuh. Namun perbuatan tersebut diketahui oleh ayah mereka. Sanghyang Tunggalpun mengutuk ketiga putranya tersebut menjadi buruk rupa. Puguh berganti nama menjadi Togog sedangkanPunggung menjadi Semar. Keduanya diturunkan ke dunia sebagai pengasuh keturunan Samba, yang kemudian bergelar Batara Guru. Sementara itu Manan mendapat pengampunan karena dirinya hanya ikut-ikutan saja. Manan kemudian bergelar Batara Narada dan diangkat sebagai penasihat Batara Guru.

Dalam naskah Purwacarita dikisahkan, Sanghyang Tunggal menikah dengan Dewi Rekatawati putraSanghyang Rekatatama. Dari perkawinan itu lahir sebutir telur yang bercahaya. Sanghyang Tunggal dengan perasaan kesal membanting telur itu sehingga pecah menjadi tiga bagian, yaitu cangkang, putih, dan kuning telur. Ketiganya masing-masing menjelma menjadi laki-laki. Yang berasal dari cangkang diberi nama Antaga, yang berasal dari putih telur diberi nama Ismaya, sedangkan yang berasal dari kuningnya diberi namaManikmaya. Pada suatu hari Antaga dan Ismaya berselisih karena masing-masing ingin menjadi pewaris takhta kahyangan. Keduanya pun mengadakan perlombaan menelan gunung. Antaga berusaha melahap gunung tersebut dengan sekali telan namun justru mengalami kecelakaan. Mulutnya robek dan matanya melebar. Ismaya menggunakan cara lain, yaitu dengan memakan gunung tersebut sedikit demi sedikit. Setelah melewati bebarpa hari seluruh bagian gunung pun berpindah ke dalam tubuh Ismaya, namun tidak berhasil ia keluarkan. Akibatnya sejak saat itu Ismaya pun bertubuh bulat. Sanghyang Tunggal murka mengetahui ambisi dan keserakahan kedua putranya itu. Mereka pun dihukum menjadi pengasuh keturunan Manikmaya, yang kemudian diangkat sebagai raja kahyangan, bergelar Batara Guru. Antaga dan Ismaya pun turun ke dunia. Masing-masing memakai nama Togog dan Semar.

Semar Versi jawa
Semar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi  kesejahteraan manusia

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar 
Harafiah : Sang Penuntun Makna Kehidupan 

Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya :

"Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tunggal". Sedang tangan kirinya bermakna "berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik". 

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa. 

Rambut semar "kuncung" (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.

Semar barjalan menghadap keatas maknanya :

"dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat". 

Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : menegakan keadilan dan kebenaran di bumi.

Ciri sosok semar adalah:

- Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
- Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
- Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
- Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
- Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi  atas nasehatnya

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa.

Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .

Semar (pralambang ngelmu gaib) - kasampurnaning pati.



Gambar kaligrafi jawa tersebut bermakna : 
Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan. Mardika artinya "merdekanya jiwa dan sukma", maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa.
Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : "dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup".

Semar Versi Sunda
Badannya pendek, tambun, berkulit hitam pekat tetapi wajahnya putih kepalanya berkuncung sejumput rambut berwarna putih. Tokoh ini bernama Semar. Jabatannya lurah di Desa Karang Tumaritis termasuk wilayah Kabupaten Madukara, Pandawa. Karena itu ia sering pula disebut Lurah Semar atau LurahKudapawana.

Abdidalem Kerajaan Pandawa itu hidup amat sederhana bersama istrinya, DewiSutiragen (Sudiragen) seorang putri raja serta tiga anaknya. Ada perbedaan urutan anak-anak Semar di dalam pewayangan Jawa dan Sunda. Dalam pewayangan Jawa, anak sulung Semar bernama Gareng kemudian Petruk dan yang bungsu bernama Bagong. Sedangkan dalam pewayangan Sunda, anak sulung bernama Cepot alias Sastrajinggaalias Bagong Kedua bernama Dawala dengan nama kecil Udel, dan yang bungsu bernama Gareng alias Nalagareng.

Keluarga panakawan itu sama sekali tidak ada dalam wayang babon (asli India). Keluarga Semar dan keluarga Togog Wijomantri, adik kandung Semar, benar-benar tokoh artifisial (hasil rekayasa) yang “dilekatkan” pujangga kita ke dalam pewayangan. Karena artifisial, Semar ada pada semua cerita wayang, baik galur yakni babad Lokapala, Ramayana, dan Mahabarata, maupun cerita sempalan.

Meskipun artifisial, keberadaan Semar dalam wayang purwa tidak tampak seperti tempelan. Tokoh itu larut dalam alur cerita dengan peranan yang sangat jelas. Memang dalam cerita babad Lokapala dan Ramayana, Semar tidak punya peran apa-apa kecuali sebagai panakawan (abdi dalem). Begitu pula Togog, ia menjadi pelayan Kerajaan Alengkadirja. Namun pada Mahabarata dan semua sempalannya, justru Semar menjadi tokoh sentral.

Semar “dimasukkan” pencipta lakon sebagai tokoh yang memiliki peran multidimensi, antara lain, pembawa misi kerakyatan, penumpas kejahatan, panakawan sekaligus guru, penghibur atau pelipur lara. Di samping itu ia juga ternyata secara spiritual punya kedudukan tertinggi di antara tokoh wayang. Ia penjelmaan Dewa Ismaya, putra sulung Sanghiang Wenang. Semua dewa di Sawarga Maniloka tunduk padaIsmaya. Batara Guru sebagai penguasa Indraloka itu tidak punya arti apa-apa di hadapan Semar Cipta Ismaya. Ia jadi penguasa hanya karena Ismaya sebagai pewaris takhta sedang menyamar sebagai Semar Lurah Kudapawana.

Di sawarga saja ia sebagai penguasa apalagi di bumi. Pandawa sangat menghormati Semar karena Semarlah pemilik pusaka kerajaan Kalimasada. Pusaka itu dipegang oleh Raja Darmakusumah alias Samiaji sebagai barang titipan. Karena ada Semar, Pandawa selalu terhindar dari malapetaka. Karena ada Semar dan anak-anaknya, cerita dan pertunjukan wayang menjadi segar dan hidup.

Seperti Lengser pada legenda dan babad Sunda, goro-goro dalam sandiwara, atau klon pada drama Shakespeare, Semar dan anak-anak merupakan penghubung antara pertunjukan dan penonton. Melalui Semar dan anak-anaknya, dalang berkomunikasi dengan penonton, menyampaikan pesan, gagasan, dan kritik. Dengan sangat cekatan, dalang “mengeluarkan” Semar dan anak-anaknya dari alur cerita bahkan dari lingkup pertunjukan. Semar dan anak-anaknya bersatu padu dengan penonton. Ia larut dalam kehidupan luas, mengembangkan wacana menjadi dialog. Mereka, Semar dan anak-anaknya benar-benar menjadi manusia biasa, anggota masyarakat, rakyat kecil yang memiliki kebebasan mengeluarkan pendapat. Semar dan anak-anaknya menjadi media dakwah yang sangat efektif.

Pertunjukan wayang tanpa Semar dan anak-anaknya, terasa hambar dan monoton. Karena itu fungsi dan peranan Semar dan anak-anaknya menjadi sangat penting terutama dalam menciptakan suasana dialogis dan komunikatif. Hubungan penonton dengan tontonan menjadi sangat erat. Dalam dunia teater, hubungan harmonis yang juga apresiatif seperti itulah yang bisa membangun suasana musikal.

Meskipun Semar, lengser, goro-goro, dan klon punya fungsi dan peran yang sama, pada sisi lain, Semar punya fungsi dan peran yang bukan hanya sebagai selingan. Semar dan anak-anaknya menjadi lambang sekaligus cermin rakyat. Dengan jabatan lurah, Semar menjadi pemuka masyarakat. Ia dan anak-anaknya menjadi penghubung rakyat dengan pemerintah. Kedudukan Semar sebagai rakyat harus tunduk kepada ketentuan bahkan menjadi abdi negara. Namun pada dasarnya Semarlah (baca: rakyatlah) pemilik negara itu. Artinya Semarlah sebenarnya pemegang kedaulatan Pandawa. Sebagai rakyat ia mengamanatkan kedaulatannya kepada raja. Hal itu dilambangkan dengan Kalimasada, pusaka Semar yang dititipkan kepadaDarmakusumah.

Agar kedudukan Semar sebagai pemegang kedaulatan lebih tegas lagi, para wali yang mengadaptasi cerita wayang, membekali Semar dengan kesaktian dan asal-usul yang jauh lebih hebat daripada para Pandawa. Karena itu para dalang menyebut Semar sebagai wayang agung, kelir miraga sukma. Bila perlu, dengan mudah Semar dapat mengambil alih takhta kerajaan. Kesaktian raja dan para putra Pandawa lainnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kesaktian Semar. Akan tetapi Semar tidak melakukan itu. Sebagai rakyat dan abdi negara, ia taat dan tunduk kepada hukum atau aturan main yang berlaku.

Bukankah tatanan seperti itu merupakan prinsip demokrasi? Kalau jawabannya ya, artinya karuhun bangsa kita sudah berpikir demokratis dan itu terjadi sekira abad ke-16 atau abad awal masuknya Islam ke nusantara. Lalu, mengapa lima abad kemudian kita masih belum memahami benar prinsip demokrasi? Sekarang sering kita baca dan sering kita dengar, bangsa kita tengah berada pada era demokratisasi atau berada pada proses demokratisasi bahkan kita masih belajar demokrasi. Itu berarti kita tertinggal jauh bukan saja oleh bangsa lain tetapi juga oleh karuhun kita sendiri.

Silsilah Dan Keluarga
Dalam pewayangan dikisahkan, Batara Ismaya sewaktu masih di kahyangan sempat dijodohkan dengan sepupunya yang bernama Dewi Senggani. Dari perkawinan itu lahir sepuluh orang anak, yaitu:
  1. Batara Wungkuham
  2. Batara Surya
  3. Batara Candra
  4. Batara Tamburu
  5. Batara Siwah
  6. Batara Kuwera
  7. Batara Yamadipati
  8. Batara Kamajaya
  9. Batara Mahyanti
  10. Batari Darmanastiti
Semar sebagai penjelmaan Ismaya mengabdi untuk pertama kali kepada Resi Manumanasa, leluhur para Pandawa. Pada suatu hari Semar diserang dua ekor harimau berwarna merah dan putih. 

Manumanasa memanah keduanya sehingga berubah ke wujud asli, yaitu sepasang bidadari bernamaKanistri dan Kaniraras. Berkat pertolongan Manumanasa, kedua bidadari tersebut telah terbebas dari kutukan yang mereka jalani. Kanistri kemudian menjadi istri Semar, dan biasa dipanggil dengan sebutan Kanastren. Sementara itu, Kaniraras menjadi istri Manumanasa, dan namanya diganti menjadi Retnawati, karena kakak perempuan Manumanasa juga bernama Kaniraras.

Pasangan panakawan
Dalam pewayangan Jawa Tengah, Semar selalu disertai oleh anak-anaknya, yaitu Gareng, Petruk, danBagong. Namun sesungguhnya ketiganya bukan anak kandung Semar. Gareng adalah putra seorang pendeta yang mengalami kutukan dan terbebas oleh Semar. Petruk adalah putra seorang raja bangsaGandharwa. Sementara Bagong tercipta dari bayangan Semar berkat sabda sakti Resi Manumanasa.

Dalam pewayangan Sunda, urutan anak-anak Semar adalah Cepot, Dawala, dan Gareng. Sementara itu, dalam pewayangan Jawa Timuran, Semar hanya didampingi satu orang anak saja, bernama Bagong, yang juga memiliki seorang anak bernama Besut.

Bentuk Fisik
Semar memiliki bentuk fisik yang sangat unik, seolah-olah ia merupakan simbol penggambaran jagad raya. Tubuhnya yang bulat merupakan simbol dari bumi, tempat tinggal umat manusia dan makhluk lainnya.

Semar selalu tersenyum, tapi bermata sembab. Penggambaran ini sebagai simbol suka dan duka. Wajahnya tua tapi potongan rambutnya bergaya kuncung seperti anak kecil, sebagai simbol tua dan muda. Ia berkelamin laki-laki, tapi memiliki payudara seperti perempuan, sebagai simbol pria dan wanita. Ia penjelmaan dewa tetapi hidup sebagai rakyat jelata, sebagai simbol atasan dan bawahan.

Keistimewaan
Semar merupakan tokoh pewayangan ciptaan pujangga lokal. Meskipun statusnya hanya sebagai abdi, namun keluhurannya sejajar dengan Prabu Kresna dalam kisah Mahabharata. Jika dalam perang Baratayuda menurut versi aslinya, penasihat pihak Pandawa hanya Kresna seorang, maka dalam pewayangan, jumlahnya ditambah menjadi dua, dan yang satunya adalah Semar.

Semar dalam karya sastra hanya ditampilkan sebagai pengasuh keturunan Resi Manumanasa, terutama para Pandawa yang merupakan tokoh utama kisah Mahabharata. Namun dalam pementasan wayang yang bertemakan Ramayana, para dalang juga biasa menampilkan Semar sebagai pengasuh keluarga Sri Ramaataupun Sugriwa. Seolah-olah Semar selalu muncul dalam setiap pementasan wayang, tidak peduli apapun judul yang sedang dikisahkan.

Dalam pewayangan, Semar bertindak sebagai pengasuh golongan kesatria, sedangkan Togog sebagai pengasuh kaum raksasa. Dapat dipastikan anak asuh Semar selalu dapat mengalahkan anak asuh Togog. Hal ini sesungguhnya merupakan simbol belaka. Semar merupakan gambaran perpaduan rakyat kecil sekaligus dewa kahyangan. Jadi, apabila para pemerintah - yang disimbolkan sebagai kaum kesatria asuhan Semar - mendengarkan suara rakyat kecil yang bagaikan suara Tuhan, maka negara yang dipimpinnya pasti menjadi nagara yang unggul dan sentosa.

(Sumber: Wikipedia, Indospiritual, dan Koran PR)

Senin, 16 Maret 2015

INDAHNYA BERBAGI 

Pada suatu sore pertengahan Februari, saya berjalan menuju Arah Jalan Pulang Waktu itu hujan rintik. Sebelum sampai di Rumah saya berteduh di suatu tempat yang bersebelahan dengan sebuah gedung yang telah kusam , saya terkesiap ketika memandang ke arah kanan.
Tempat dimana ada gerobak sampah. Dia, seorang tukang kebersihan yang tua, sedang mencurahkan kasih sayangnya. Lembut dan perhatian, dia menyuapi tiga ekor kucing dengan sisa susu kental manis yang ditemunya diantara sampah.
Tukang kebersihan itu khusuk. Tak peduli hujan rintik memukul tubuh keringnya. Dia mencurahkan perhatian pada tiga kucing yang sedang terlihat lapar. Tukang kebersihan tua itu membuka kaleng susu kental manis dengan payah. Beberapa kali congkelan besi kecil di tangannya akhirnya berhasil membuka lebih lebar kaleng susu tersebut.
Sang tua tukang kebersihan segera menuangkan tetes susu manis tersebut ke dekat dua kucing berbulu putih. Lalu, manja sekali kucing-kucing itu menikmatinya. Sedangkan hujan makin rintik, angin melempar dingin ke setiap penjuru. Saya menggigil. Namun, melihat sang tua yang begitu cinta, saya makin menggigil.
Saya melihat kemegahan cinta di antara tumpukan sampah, bau asam dan lendir sisa-sisa makanan. Ini bukan hal remeh. Sebab tidak setiap insan mampu melakukannya. Hanya terhadap binatang liar, ia seperti mengabdi tanpa beban. Hati kecil bertanya, kepada siapa dia sang tua tukang kebersihan itu sesungguhnya mengabdi?

Jika dia mengabdi kepada kucing semata, tentu tidak mungkin. Sebab kucing tidak akan memberinya balasan materi. Sepertinya halnya banyak bawahan, pejabat pemerintahan, perusahaan atau organisasi rela mengabdi kepada atasan agar teruntungkan dari segi apapun. Akan tetapi itu adalah pengabdian semu, palsu. Pengabdian yang bersandiwara. Sebab memiliki harga, memiliki price tag. Sedangkan sang tua tukang sampah tersebut tidak akan memberi price tag pada pengabdiannya.
Sang tua tukang kebersihan sampah, dalam tafsir saya, sedang mengabdi pada cinta, pada sebentuk kasih sayang paling murni. Yaitu cinta yang tak berharap meminta kembali, namun cinta yang memancar dan memberi. Seperti halnya para salih yang sangat dekat dengan cahaya Tuhan. Sang tua ini, bagi saya adalah kemegahan cinta itu sendiri.
Bagaimana dengan para pemimpin politik, pejabat dan insan-insan yang memiliki sumber kekuasaan? Apakah mereka bisa mengabdi karena memiliki kemegahan cinta dalam rumah hidupnya? Jika ya, mengapa masih saja ditemukan para pejabat korup, pejabat yang abai pada insan-insan tidak mampu. Atau pemilik modal ekonomi besar yang lebih berat memikirkan cara akumulasi profit dan kekayaannya sendiri.
Begitu pun diri ini, berkaca pada sang tua tukang kebersihan sampah. Apa benar selama ini telah mengabdi tanpa price tag, tanpa harapan akumulasi profit? Ah pertanyaan ini benar-benar menyudutkan, memancing ego mencari pembenaran.
#Semakin lama memang semakin banyak hitungan hari, Tapi pada hakikatnya setiap hari berkurang terus, bahkan mendekati batas akhir, Kematian ( Al Hikam - Ibnu Athoilah Al Iskandari ) 
#Maka Berbagilah karena berbagi itu dasarnya indah 

Minggu, 15 Maret 2015

Aneka Ragam PKG
Saya agak tergelitik membaca pernyataan teman-teman operator. Terkesan membedakan PKG yang dilakukan PADAMU NEGERI dan PKG yang akan dilakukan P2TK melalui aplikasi khusus pengawas.
Sebenarnya PKG itu hanya satu. Di PADAMU dan P2TK kita hanya meng-entry hasil PKG yang sudah ada. Tanpa diminta PADAMU dan P2TK, PKG memang wajib dilakukan sejak tahun 2014. Karena PKG dibutuhkan untuk pengusulan kenaikan pangkat di BKN.
PKG seharusnya dilakukan sejak tahun 2013. Tapi ada kebijakan untuk diundur pemberlakuannya mulai 2014. Untuk 2013 kenaikan pangkat masih diperbolehkan menggunakan pola lama.
PKG sendiri sudah lahir 6 tahun yang lalu. Ketika Kemenpan RB mengeluarkan Permen No. 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya.
Saya sendiri sudah beberapa kali mengikuti pelatihan dan sosialisasi PKG yang diadakan dinas. Yang pertama tahun 2011.
Jadi teman-teman jangan terkecoh jika PADAMU dan P2TK meminta PKG. Sampai menyangka PKG PADAMU dan P2TK berbeda. Format berbeda.
Semua PKG sama. Bentuknya sama, formatnya sama. Sesuai dengan Permendiknas No. 35 tahun 2010 tentang Petunjuk teknis Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya. Terdiri dari 14 kompetensi dan 78 indikator. Yang merupakan penjabaran dari 4 kompetensi guru profesional.
Tinggal kita kopi dan berikan kepada pihak-pihak yang memintanya. Entah itu PADAMU, P2TK, BKN, Dinas dan sebagainya. Baik secara online atau ofline, dientry atau dikirim. Berupa file atau kertas. Pokoknya, kasi daaah.....***

FORMAT NILAI PKG DAN REVISI FORMAT SEBELUMNYA

Format PKG Kolektif Sekaligus Perbaikan Dari Format PKG Sebelumnya, Klo Kurang Sesuai Sesuaikan Sendiri 

download :
https://www.dropbox.com/s/bdgc7rfdrhmfilf/BLANGKO%20APLIKASI%20PKG.zip?dl=0
GORESAN PENA SANG TERBUANG

Bahasa Tingkat tinggi dalam Diplomasi..
Apalah guna Diplomasi bila Sikap sama-sama merasa paling benar bukan saling membutuhkan,
dalam Berdiplomasi hilangkan sifat merasa "Waahh" dari kubu Lawan,Kubu lawan pun demikian,..
perdamaian akan terwujud bila sama-sama mengakui kebenaran, kebenaran yang murni dari Hati,
serta Suara Insan yang telah lelah melihat peperangan..

ini Bukan Wall Street, dimana Pialang Saham berebut keuntungan dan menggunakan Diplomasi sebagai Topeng demi sebuah keuntungan..
Budaya kita, budaya Musyawarah, Budaya Turun Temurun NKRI,Perang Proyektil, Perang Opini,
dan Argumentasi tidak akan pernah menyelesaikan sebuah masalah, melainkan melahirkan Duka,duka yang akan dirasakan dan tercatat dalam Sejarah..


Musyawarah dapat digunakan untuk mendapatkan solusi untuk menghadapi berbagai masalah dalam hidup bermasyarakat.
Masalah tersebut meliputi ekonomi, pendidikan, sosial dan kemasyarakatan.
Setiap peserta musyawarah memiliki hak yang sama dalam mengutarakan pendapat dan memiliki kewajiban yang sama untuk menjalankan hasil keputusan musyawarah,
sehingga terdapat persamaan hak antara semua peserta musyawarah, tidak perduli apapun jabatannya.
Musyawarah juga tidak membedakan status sosial, tanpa perlu mengalang simpati atau empati, jalankan Musyawarah..
Tidak perlu kalian yang menilai layak atau tidaknya hasil Keputusan Musyawarah, NKRI adalah Negara yang memegang Mufakat,.
biarkan kami yang menilai hasil keputusan dari Diplomasi yang kalian lakukan diatas sana,
yang membutakan kami dengan Opini-Opini yang bersifat mengaburkan kesalahan-kesalahan pihak yang sedang berdiplomasi..
Kami cuma menginginkan hasil Keputusan bersama dan tertuang dalam sebuah Putusan baru, bukan Keputusan sepihak..

CMIIW





Persyaratan Penerbitan SKTP Tahun Anggaran 2015 

Salah satu persyaratan penerbitan SKTP adalah dengan adanya penilaian kinerja guru... (PKG) yang diverifikasi dan diuploud oleh pengawas bina ptk ybs.
Kekhawatiran saja, jika pkg itu dilakukan hanya sebatas formalitas tanpa dilakukan penilaian secara real...
Penomena ini bisa saja terjadi.... bagi oknum tertentu..
Jika dilaksanakan PKG akan terjadi filterisasi antara yg layak dan tidak layak terbit SKTP.... sehingga tidak sebatas angka 24 saja tetapi harus penggunaannya dalm bentuk KBM
Pertanyaannya ;
1. Apakah pkg per 3 bulan?
2. Apakah pkg per 6 bulan?
Dan hasilnya harus dan sama untuk Pengajuan Angka Kridit.. (PAK)....

Mudah-mudahan bukan OPS lagi yg ngerjakan. Amiin...



Link CEK Tunjangan Dikdas :
(NEW) http://223.27.144.195:8084
(NEW) http://223.27.144.195:8085/index.php
(NEW) http://223.27.144.195:8086/
(NEW) http://223.27.144.195:8086/index.php
(NEW) http://223.27.144.195:8087/
(NEW) http://223.27.144.195:8088/
(NEW) http://223.27.144.195:8089
Link baru. silahkan cek Tunjngan DIKDAS anda disini :
http://223.27.144.195:8081/index2.php

















Sabtu, 14 Maret 2015

PKG Tugas Siapa ?????


PK Guru yang akan diterapkan tahun ini (Harusnya sejak tahun 2009) sesuai amanat Permenegpan RB nomor 9. Tusi ini terkait denganpembinaan karir jadi sesuai dengan Organisasi dan Tata Kerja kemdikbud (OTK Kemdikbud/Permendikbud nomor 1 tahun 2012) melekat pada direktorat PTK. ( Info dari Bapak Tagor Alamsyah P2TK Dikdas )




Kita Lihat wacana tersebut apakah memang harus kembali menjadi rutinitas pekerjaan Operator Sekolah ??????
Tentu saja Pengentryan NIlai PKG adalah Tugas PENGAWAS 
CMIIW