INDAHNYA BERBAGI
Pada suatu sore pertengahan Februari, saya berjalan menuju Arah Jalan Pulang Waktu itu hujan rintik. Sebelum sampai di
Rumah saya berteduh di suatu tempat yang bersebelahan dengan sebuah gedung yang telah kusam , saya terkesiap ketika memandang ke arah kanan.
Tempat dimana ada gerobak sampah. Dia, seorang tukang kebersihan yang tua,
sedang mencurahkan kasih sayangnya. Lembut dan perhatian, dia menyuapi tiga
ekor kucing dengan sisa susu kental manis yang ditemunya diantara sampah.
Tukang kebersihan itu khusuk. Tak peduli hujan rintik memukul tubuh
keringnya. Dia mencurahkan perhatian pada tiga kucing yang sedang terlihat
lapar. Tukang kebersihan tua itu membuka kaleng susu kental manis dengan payah.
Beberapa kali congkelan besi kecil di tangannya akhirnya berhasil membuka lebih
lebar kaleng susu tersebut.
Sang tua tukang kebersihan segera menuangkan tetes susu manis tersebut ke
dekat dua kucing berbulu putih. Lalu, manja sekali kucing-kucing itu
menikmatinya. Sedangkan hujan makin rintik, angin melempar dingin ke setiap
penjuru. Saya menggigil. Namun, melihat sang tua yang begitu cinta, saya makin
menggigil.
Saya melihat kemegahan cinta di antara tumpukan sampah, bau asam dan lendir
sisa-sisa makanan. Ini bukan hal remeh. Sebab tidak setiap insan mampu
melakukannya. Hanya terhadap binatang liar, ia seperti mengabdi tanpa beban.
Hati kecil bertanya, kepada siapa dia sang tua tukang kebersihan itu
sesungguhnya mengabdi?
Jika dia mengabdi kepada kucing semata, tentu tidak mungkin. Sebab kucing
tidak akan memberinya balasan materi. Sepertinya halnya banyak bawahan, pejabat
pemerintahan, perusahaan atau organisasi rela mengabdi kepada atasan agar
teruntungkan dari segi apapun. Akan tetapi itu adalah pengabdian semu, palsu.
Pengabdian yang bersandiwara. Sebab memiliki harga, memiliki price tag.
Sedangkan sang tua tukang sampah tersebut tidak akan memberi price tag pada
pengabdiannya.
Sang tua tukang kebersihan sampah, dalam tafsir saya, sedang mengabdi pada
cinta, pada sebentuk kasih sayang paling murni. Yaitu cinta yang tak berharap
meminta kembali, namun cinta yang memancar dan memberi. Seperti halnya para
salih yang sangat dekat dengan cahaya Tuhan. Sang tua ini, bagi saya adalah
kemegahan cinta itu sendiri.
Bagaimana dengan para pemimpin politik, pejabat dan insan-insan yang
memiliki sumber kekuasaan? Apakah mereka bisa mengabdi karena memiliki
kemegahan cinta dalam rumah hidupnya? Jika ya, mengapa masih saja ditemukan
para pejabat korup, pejabat yang abai pada insan-insan tidak mampu. Atau
pemilik modal ekonomi besar yang lebih berat memikirkan cara akumulasi profit
dan kekayaannya sendiri.
Begitu pun diri ini, berkaca pada sang tua tukang kebersihan sampah. Apa
benar selama ini telah mengabdi tanpa price tag, tanpa harapan akumulasi
profit? Ah pertanyaan ini benar-benar menyudutkan, memancing ego mencari
pembenaran.
#Semakin lama memang semakin banyak hitungan hari, Tapi pada hakikatnya setiap hari berkurang terus, bahkan mendekati batas akhir, Kematian ( Al Hikam - Ibnu Athoilah Al Iskandari )
#Maka Berbagilah karena berbagi itu dasarnya indah










